Didalam puasa Ramadhan hukum dari niat ialah
wajib. Tidak sah puasanya seseorang jika tidak didahului dengan berniat. Dan
waktu berniat puasa ramdhan ialah ketika pada malam hari. Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang tidak berniat puasa (Ramadhan) pada malam
hari sebelum terbit fajar, maka tidak sah puasanya".
Sedangkan didalam puasa sunnah niat puasa tidak
harus dilakukan pada malam hari. Namun boleh dilakukan pada pagi hari yaitu
sesudah terbitnya fajar sampai tergelincirnya matahari (sebelum memasuki waktu
dzuhur). Bahkan madzab hambali memperbolehkan berniat sesudah waktu dzuhur.
Dari 4 madzab yang ada mereka mempunyai pendapat yang berbeda-beda mengenai
niat puasa,yaitu:
1.
Madzab Hanafiyah : Lebih baik jika niat puasa wajib maupun sunnah dilakukan bersamaan
dengan terbitnya fajar, karena terbitnya fajar merupakan waktu diawalinya ibadah. Jika niat
dilakukan setelah terbitnya fajar, untuk semua jenis puasa wajib yang
sifatnya menjadi tanggungan/hutang misalnya
seperti puasa qadla, puasa kafarat, maka menjadi tidak sah
puasanya.
Berbeda dengan puasa wajib yang hanya
dilakukan pada waktu-waktu tertentu, seperti puasa Ramadhan, nadzar, dan puasa-puasa sunnah yang tidak
dikerjakan dengan sempurna, maka boleh saja niatnya dilakukan setelah fajar
sampai tergelincirnya matahari yaitu
sebelum memasuki waktu Dhuhur.
2.
Madzab Malikiyah : Untuk semua jenis puasa baik puasa wajib maupun sunnah niat
puasanya dianggap
sah bila dilakukan pada
malam hari atau bersamaan dengan terbitnya fajar. Namun jika seseorang berniat
sebelum terbenamnya matahari pada hari sebelumnya atau berniat sebelum
tergelincirnya matahari pada hari ia berpuasa maka puasanya menjadi tidak sah meskipun ketika
ia berpuasa
sunnah.
3. Mazhab
Syafi'iyah : Untuk semua jenis puasa wajib (baik yang dilakukan pada
waktu-waktu tertentu seperti puasa Ramadlan; yang sifatnya menjadi tanggungan
seperti qadla', nazar, kafarat, dll.) niatnya harus dilakukan pada malam hari.
Adapun ketika puasa
sunnnah, niat bisa dilakukan sejak malam hari sampai sebelum tergelincirnya
matahari. Karena Nabi saw.pada suatu hari berkata pada 'Aisyah:
'Apakah kamu mempunyai makanan?'. Jawab 'Aisyah: 'Tidak punya'. Terus Nabi
bilang: 'Kalau begitu aku puasa'. Lantas 'Aisyah mengisahkan bahwa Nabi pada
hari yang lain berkata kepadanya: 'Adakah sesuatu yang bisa dimakan?'. Jawab
'Aisyah: 'Ada'. Lantas Nabi berkata: 'Kalau begitu saya tak berpuasa, meskipun
saya telah berniat puasa'.
4.
Mazhab Hambaliyah : Tidak berbeda dengan Syafi'iyah, madzab ini mengharuskan
niat dilakukan pada malam hari, untuk semupa jenis puasa wajib. Namun pada
puasa sunnah, madzab ini berbeda
dari Syafi'iyah, niat dapat
dilakukan walaupun telah lewat waktu Dhuhur (dengan syarat belum makan atau minum sedikitpun sejak fajar). Dan pendapat yang
terakhir inilah yang paling kuat tentang diperbolehkannya berniat puasa sunnah setelah waktu dzuhur.
Untuk lebih jelasnya tentang blog ini silahkan baca disini
Artikelnya bermanfaat buat saya, visit juga ya http://surat-hud.blogspot.com/
BalasHapus